Jakarta ; The Beginning



Beberapa waktu yang lalu, demi mengejar pekerjaan, karir, atau apapun namanya, gua memutuskan berpetualang ke jakarta. Ya sodara sodara! Gua ke JAKARTA (di bold biar terlihat dramatis abisss). FYI aja ya, gua ini manusia yang sama sekali ga paham jakarta itu apa, kecuali yang sering diliat di tipi, dimana selalu ada banjir, dan segala macem kejadian ada disono, then sebenarnya sedikit banyak media udah bikin gua sukses males sama jakarta. Gua parno, gua senewen sama macet, dan gua ga betah dekat kerumunan manusia. Pengap. Maka sukseslah sudah mereka membuat gua menghindari jakarta. Tapi apa mau dikata, karena gua ga lekas dapet kerja juga, akhirnya gua putuskan pergi ke sono untuk ikut Job Fair di Senayan yang diadain sama Jobforcareer.com sama besoknya yang diadain sama Jobstreet.com. Dan tentu saja kebetean gua sama jakarta nambah berkat fakta bahwa gua keilangan ATM emak gua ketika gua berkelana disono.
Awalnya gua berniat mau sebentaran doang disana, alias dateng buat ikut job fair doang dan kemudian pulang. Namun tuhan berkehendak lain, gua disarankan (dan dipaksa) sama kawan gua buat stay disana selama beberapa hari menunggu pemberitahuan dari job fair tersebut.
Selama menunggu itu, gua mencoba ikut Walk in iterview di Dexa Medica, trus ke Infomedia di daerah Fatmawati.
Selaen itu gua juga diajak “bergaol” sama kawan seperjalanan gua, Maya, biar gua bisa kenalan sama jakarta dan ga terlalu kudet.
Maka diajaklan gua sama Maya ke Blok M, dan ke mal laennya yang ga gua hapal namanya.
Pernahkah gua cerita kalo gua ini adalah manusia yang ceroboh, grasa grusu, dan seringkali ditimpa kejadian memalukan dunia?.
Okay, jamanan gua MAN (aka SMA), gua pernah jatoh tengkurep karena lari buru-buru pengen ke kamar mandi balik dari sekolah, gua nabrak tong sampah dan nyusruk begitu aja sambil diliatin anak-anak TK yang lagi istirahat (plus emak-emaknya), dan gua Cuma bisa cengengesan.
Di sekolah aja pas acara perpisahan karena saking asyiknya ngobrol dan ketawa-ketiwi, kaki gua masuk ke got kecil dan keselip disana, tentu aja meninggalkan lecet di betis yang lumayan dalam. Saat itu gua cengengesan aja diliatin manusia segitu banyaknya . Gua juga pernah jatoh gara-gara lari pas mao ke warung beli blocknote, dan gua jato tengkurep gitu aja diliatin akang-akang ganteng yang untungnya gua ga kenal. Dan, oh iya, dulu mah apalagi jamanan SMP gua pas balik beli es (dan tentu aja langsung gua buka dan makan sambil jalan), saking seriusnya menelanjangi eskrim di tangan, gua ga fokus liat jalan, gua jalan minggir dan keselip gitu aja di selokan.
Pulang latihan karate di sekolah, gua juga pernah jatoh kecelup. Gua anaknya lumayan petakilan, dan suka hal-hal di luar kebiasaan kayak buka botol minuman pake gigi, makan mie langsung di panci, ato berlatik ngupas kelapa dan mencangkul, maka ketika temen gua yang laen jalan di pinggir jalanan, gua jalan di atas tembok selokan air yang baru aja dibangun. Dengan polosnya gua berdendang riang gembira penuh cinta, kagak sadar kalo ternyata kelak gua ketiban apes. Saat belok masuk ke gang asrama kaki gua miss nginjek tanah dan akhirnya jatoh (plus lecet di sepanjang betis). Dahsyatnya karena seringnya gua jatoh, saat itu gua Cuma langsung kebangun setelah beberapa detik menatap luka lecet dan lanjut jalan aja.

Dan, belum termasuk jatuh-jatuh yang paling sering ; di tangga. Entah kenapa gua sering banget terantuk, kepleset, gelinding (atau apapun jenisnya) udah pernah gua alamin semua di tangga. Mungkin tangga di manapun punya dendam kesumat sama gua? Entahlah.
Yang memalukan lainnya dalam keidupan ini juga pernah gua alamin semacam saat gua latihan pemusatan di GOR Dadaha, kita saat itu disuruh bikin buku laporan yang menjelaskan seberapa banyak latihan kita setiap hari, push up, sit up, dan seterusnya dan sebagainya.
Gua, sebagai cewek yang imut memutuskan memakai buku Kiky bergambar Mickey Mouse berwarna Pink terang benderang. Yang lebih menakjubkannya lagi, disebabkan karena gua ini manusia yang diberi kelebihan kreativitas yang tak tersalurkan, akhirnya energi ini gua pake disini, buku laporan yang senyatanya formal dan apa-apadanya, gua rombak seenak jidat jadi buku laporan diary.
Tingkah gua yang kelewat ajaib ini ketahuan sama Kang Wawan pelatih dari Kabupaten Tasikmalaya, kemudian dengan dahsyatnya, buku itu, buku “Diary” kampret gua itu, dibaca dengan manjanya oleh beliau saat latihan live di depan anak-anak yang entah ekspresi mukanya kaya apa, karena alhamdulilahirrobbil alaminnya, gua saat itu nggak hadir latihan. Ya nggak kebayang aja kalau pada saat itu gua hadir, gua yakin saat itu juga gua langsung gali tanah dan mengubur diri sendiri.
Saat diceritain tragedi itu oleh kawan satu team gua, gua Cuma sanggup mangap dan berupaya mati namun tak sanggup.
>>>> 2014
Itu berlalu beberapa tahun kawan-kawan.
Gua pikir saat ini gua lebih baik, so gua ga berpikir gua ga bakalan tertimpa kejadian menakjubkan lagi, kaya semacam sendal jepit hampir “ketelen” Eskalator Asia Plaza, atau kesasar pulang dari belanja dan kebawa sampe Gobras dan Alun-Alun Tasikmalaya.
Gua pikir gua bakal baik-baik aja.
Sampe akhirnya gua tiba di Blok M. (eh, blok M apa plaza Blok M, ato apa gitu lah, yang jelas itu bangunan tinggi-tinggi sekali).
Itu bangunan keren banget, dan nggak ada di kampung gua, karena di desa gua adanya Cuma sawah, hutan, sawah, dan pohon kelapa.
Pintunya buka tutup otomatis yang kata pake sensor, dimana ketika ada orang mau masuk dia kebuka, dan di saat orang mau keluiar dia membuka pula. Di luar itu, ntu pintu bakal berdiam diri seakan dia bukanlah apa-apa dan hanyalah kaca tembus pandang biasa.
Saking dahsyatnya itu tempat, pintunya dibagi dua ; pintu masuk dan pintu keluar.
Di dalem situ gua sama Maya makan, bolak balik ke kamar mandi buat beneran riasan muka ondel-ondel *tsaaahhh*dan muter-muter ga pentingngabisin waktu. Termasuk liatin orang pacaran dan anak-anak SMA yang berkeliaran kesana kemari. Semua berjalan normal-normal saja, gua masih petakilan, dan maya masik cantik sekaligus memimpin perjalanan kita.
Saatnya pulang, Maya cek dompet dan ternyata kita nggak punya recehan buat bayar TransJak ataupun Koantas Bima. Karena hal mendesak itu Maya ngajak gua ke dalam buat ngerecehin uang sambil sekalian beli beberapa persediaan kita yang udah hampir habis.
Kita jalan aja ke dalem.
Maya masuk duluan.
Sukses.
Gua berjalan di belakangnya nggak merasakan apa-apa, innocent.
Tanpa berpikir panjang dan segala macamnya gua mengikuti langkah Maya yang udah masup duluan.
“Buaghh...”.
Kamprettt.
Setengah muka gua kehantam pintu kaca.
Maya nengok dan Cuma bengong liatin gua.
Semua manusia yang berada di radius dekat sana nganga dan cekikikan liat gua, termasuk mas-mas penjaga stand yang ganteng, dan bapak-bapak yang bediri deket pintu.
Gua malu? Ga! Gua Cuma kepikiran make up gua.
Ya ealahhh sodara, masa kaya begitu gua masih innocent doang?.
The question is : “Kenapa itu pintu bisa sesadis itu sama gua? Kenapa sama Maya enggak? Apakah karena Maya cantik dan feminin sedangkan gua laksana pria berkerudung dan mengenakan rok?.”
Jawabannya bukan itu, karena intinya adalah kita dengan idiotnya masuk lewat pintu keluar, yang notabene dirancang cuma membuka kalo ada orang mendekat dari arah dalam. Otomatis, kita yang jalan dari arah luar ini nggak termasuk hitungan, so it mean itu benda nggak akan bergeser dan bersimpati seikitpun dengan kehadiran kita.
Lalu kenapa Maya bisa masuk?.
Jawabannya adalah karena disaat ia mendekat ke pintu itu, kebetulan ada sepasang suami istri yang hendak keluar, sehingga pintu  itu otomatis terbuka untuk mereka, kemudian Maya yang menyaksikan pintu itu terbuka otomatis melangkahkan kaki kesanal dan sukses masuk. Saat giliran gua masuk, pasangan orang itu sudah sukses keluar, dan tak ada manusia lain yang mendekat ke pintu keluar itu. Dan itu artinya Cuma ada gua di sana yang hendak masuk ke dalam, dan artinya sang pintu dengan otomatis akan menutup kembali, dalam posisi gua baru memasukkan sebelah kaki kanan gua ke dalam.
Tentu saja akhirnya muka gua dihantam pintu kaca tebal dan keras itu.
Dafuq.

0 komentar:

Posting Komentar

leave your footprint here ;)